Redaksipapuanews.com | Membramo – Kecelakaan transportasi sungai kembali merenggut korban jiwa dari masyarakat di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua. Insiden terbaru terjadi di Sungai Batavia, salah satu jalur utama mobilitas warga, yang dilaporkan menewaskan tiga orang dan satu korban lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian. Peristiwa ini menambah panjang daftar tragedi kemanusiaan akibat keterbatasan infrastruktur dasar di wilayah tersebut.
Tragedi di Sungai Batavia bukanlah kejadian tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, sungai-sungai besar di wilayah Mamberamo kerap menjadi lokasi kecelakaan yang menelan korban jiwa maupun kerugian materi. Kondisi ini semakin memperlihatkan rapuhnya sistem transportasi masyarakat yang masih bergantung pada jalur air.
Ketergantungan tersebut tidak terlepas dari belum tersedianya akses transportasi darat yang memadai. Hingga saat ini, pembangunan infrastruktur jalan di wilayah Mamberamo Raya, khususnya jalur Burmeso–Eri–Sikari, belum rampung dan terhenti di tengah jalan. Padahal, jalur tersebut menjadi harapan utama masyarakat untuk keluar dari isolasi.
Akibat belum terselesaikannya pembangunan jalan darat, masyarakat Mamberamo Raya terpaksa menjadikan transportasi sungai sebagai jalur utama untuk berbagai aktivitas. Mulai dari kegiatan ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga distribusi kebutuhan pokok, semuanya bergantung pada perahu motor yang melintasi sungai dengan risiko tinggi.
Sungai Batavia sendiri dikenal memiliki arus yang deras dan kondisi alam yang sulit diprediksi. Faktor cuaca, gelombang air, serta keterbatasan sarana keselamatan membuat perjalanan sungai menjadi sangat berbahaya, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki pilihan transportasi lain.
Insiden kecelakaan yang terjadi baru-baru ini kembali membuka luka lama dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Selain tiga korban meninggal dunia, satu orang lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan bersama masyarakat setempat.
Kejadian ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat, aktivis, hingga warga biasa yang menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka menilai, korban jiwa yang terus berjatuhan merupakan dampak langsung dari lambannya penyelesaian pembangunan infrastruktur dasar oleh pemerintah.
Untuk diketahui, pembangunan jalur darat Burmeso–Eri–Sikari sebenarnya telah direncanakan dan mulai dikerjakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua tahun 2023. Proyek tersebut terbagi dalam dua paket lelang terpisah.
Paket pertama adalah Pembangunan Jalan Burmeso–Sikari dengan nilai anggaran sekitar Rp39 miliar. Sementara paket kedua mencakup Pembangunan Jalan Eri–Sikari dengan anggaran sebesar Rp48 miliar. Namun hingga kini, kedua proyek tersebut dilaporkan terhenti tanpa kejelasan kelanjutan.
Terhentinya proyek jalan ini menimbulkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Mereka mempertanyakan komitmen Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya dalam menjamin keselamatan dan kesejahteraan warganya, terutama di wilayah pedalaman yang sangat bergantung pada infrastruktur dasar.
Masyarakat menilai, apabila akses jalan darat Burmeso–Eri–Sikari dapat diselesaikan dan difungsikan, maka ketergantungan pada jalur sungai akan berkurang secara signifikan. Hal ini diyakini mampu menekan angka kecelakaan serta mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
Selain faktor keselamatan, keberadaan jalan darat juga dipandang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar distribusi barang, serta meningkatkan akses layanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat Mamberamo Raya.
Dengan terus berulangnya kecelakaan sungai yang menelan korban, masyarakat mendesak pemerintah agar tidak lagi menunda penyelesaian proyek jalan tersebut. Mereka berharap tragedi di Sungai Batavia menjadi peringatan serius agar pembangunan infrastruktur tidak hanya berhenti pada perencanaan, tetapi benar-benar diwujudkan demi menyelamatkan nyawa masyarakat. (Red-02)

















