Redaksipapuanews.com | Jayapura – Yanni menegaskan bahwa Papua memiliki dasar kuat untuk ditetapkan sebagai “Tanah Injili yang Diberkati,” sebuah identitas yang menurutnya lahir dari sejarah panjang dan realitas sosial masyarakat. Ia menilai, gagasan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan representasi perjalanan peradaban Papua.
Sebagai anggota Komite Eksekutif KEPP Otsus Papua, Yanni menyampaikan langsung usulan itu dalam Rapat Pleno BP3OKP yang dipimpin Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Manokwari, Papua Barat.
“Ini bukan label kosong. Papua punya sejarah dan fondasi yang jelas untuk disebut sebagai Tanah Injili yang Diberkati,” ujar Yanni dalam keterangannya di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa identitas tersebut memiliki pijakan historis, sosiologis, spiritual, dan kebangsaan. Keempat aspek itu, menurutnya, saling terkait dan membentuk karakter masyarakat Papua hingga saat ini.
“Papua di ujung timur Indonesia harus dikenali dengan identitas yang bermartabat. Ini bagian dari upaya memperkuat posisi Papua dalam bingkai NKRI,” katanya.
Yanni juga menegaskan bahwa gagasan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip keberagaman. Ia memastikan bahwa seluruh agama tetap memiliki ruang yang sama dalam kehidupan masyarakat Papua.
“Ini simbol kolektif, bukan untuk menghapus keberagaman. Justru kita ingin memperkuat persatuan melalui nilai yang sudah hidup di masyarakat,” tegasnya.
Ia kemudian menyoroti sejarah masuknya Injil di Pulau Mansinam pada tahun 1855 sebagai titik balik penting. Menurutnya, peristiwa itu menjadi awal transformasi besar dalam kehidupan masyarakat Papua.
“Sejak Injil masuk, kita melihat lahirnya pendidikan formal, pelayanan kesehatan, dan sistem sosial yang lebih terorganisir. Itu bukan hal kecil,” ungkap Yanni.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan historical institutionalism memperkuat argumennya, di mana peristiwa awal memiliki pengaruh besar terhadap arah perkembangan suatu masyarakat.
“Peristiwa di Mansinam adalah fondasi. Dari situ terbentuk pola pikir, cara hidup, bahkan cara masyarakat Papua memandang masa depan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Yanni menekankan peran gereja dalam pembangunan sosial yang masih terasa hingga kini. Ia menyebut banyak institusi pendidikan dan kesehatan lahir dari peran misi keagamaan.
“Warisan ini nyata. Kita tidak bisa menutup mata bahwa gereja punya kontribusi besar dalam membangun Papua,” katanya.
Dalam perspektif sosiologi, Yanni juga mengutip pemikiran Émile Durkheim tentang pentingnya simbol kolektif dalam kehidupan masyarakat. Ia menilai, identitas Tanah Injili dapat menjadi perekat sosial yang kuat.
“Simbol seperti ini penting untuk membangun solidaritas. Ini tentang bagaimana kita punya identitas bersama yang mengikat sebagai satu masyarakat Papua,” tutup Yanni. (RPN-02)

















