Berita  

Yanni Soroti Pentingnya Identitas Spiritual Papua dalam Bingkai NKRI

banner 120x600
banner 468x60

Redaksipapuanews.com | Jayapura – Yanni menegaskan bahwa Papua membutuhkan simbol pemersatu yang mampu mengikat keragaman suku, bahasa, dan wilayah dalam satu nilai bersama, dan menurutnya konsep “Tanah Injili yang Diberkati” dapat menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.

Sebagai anggota Komite Eksekutif KEPP Otsus Papua, Yanni menyampaikan pandangan itu dalam Rapat Pleno BP3OKP yang berlangsung di Manokwari dan dipimpin oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

banner 325x300

Dalam forum tersebut, Yanni secara terbuka mengusulkan agar Papua diteguhkan sebagai Tanah Injili yang Diberkati, sebuah identitas yang ia nilai mampu merepresentasikan perjalanan sosial dan spiritual masyarakat Papua.

“Papua ini dibangun dari keberagaman. Kita perlu simbol yang tidak memecah, tetapi justru menyatukan dalam nilai moral bersama,” ujar Yanni.

Ia menjelaskan, simbol yang dimaksud bukan bersifat eksklusif, melainkan menjadi ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dalam tanggung jawab kolektif dan etika publik.

Menurut Yanni, kehidupan masyarakat Papua selama ini tidak terlepas dari nilai-nilai kekristenan yang telah mengakar kuat dan membentuk karakter sosial yang terbuka serta menjunjung tinggi kasih dan pelayanan.

“Nilai Injil itu hidup dalam keseharian masyarakat Papua, mulai dari musyawarah jemaat sampai penyelesaian konflik. Itu bukan teori, tapi praktik nyata,” tegasnya.

Mantan anggota DPR Papua selama dua decade ini menilai, pengakuan terhadap Papua sebagai Tanah Injili merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah spiritual yang telah membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat hingga sekarang.

Lebih lanjut, Yanni menekankan pentingnya memperkuat identitas Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mengabaikan keberagaman yang ada.

“Identitas lokal tidak bertentangan dengan nasionalisme. Justru itu memperkaya kebhinekaan Indonesia,” katanya.

Ia kemudian mencontohkan sejumlah daerah di Indonesia yang telah memiliki simbol spiritual kuat, seperti Aceh dengan julukan Serambi Mekkah dan Bali sebagai Pulau Dewata.

“Kalau daerah lain bisa memiliki simbol yang diakui, Papua juga punya dasar kuat untuk itu. Ini soal martabat dan pengakuan sejarah,” jelas Yanni.

Menurutnya, penguatan identitas sebagai Tanah Injili akan berdampak pada meningkatnya rasa memiliki terhadap negara, mempererat integrasi sosial, dan menempatkan Papua sebagai bagian penting dari mozaik Indonesia.

Di akhir pernyataannya, Yanni juga menyampaikan refleksi atas peringatan 24 tahun Otonomi Khusus Papua, yang menurutnya harus dimaknai sebagai bentuk komitmen negara terhadap kemajuan Papua.

“Di usia Otsus ke-24 ini, kita diingatkan bahwa dari timur Indonesia selalu lahir harapan. Papua adalah cahaya itu,” pungkas Yanni.  (RPN-02)

banner 325x300
Penulis: DanieloEditor: Elo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *