Redaksipapuanews.com | Jayapura – Sasana Percetakan Boxing Club kembali menggeliat setelah sempat mengalami kevakuman dalam aktivitas latihan. Sasana yang berada di kawasan Pasar Mama Papua itu kini mulai kembali merangkul anak-anak muda untuk berlatih dan mengembangkan bakat di cabang olahraga tinju.
Hal tersebut disampaikan Yeyen, Anggota Komisi V DPR Papua Fraksi Partai Gerindra sekaligus pembina Percetakan Boxing Club, saat ditemui di sela-sela aktivitas latihan bersama sejumlah anak muda di halaman rumahnya di Kelurahan Angkasa, Jayapura Utara, Kota Jayapura, Minggu (13/9/2026).
Yeyen mengatakan, kegiatan latihan yang berlangsung di kediamannya merupakan latihan bersama dengan anak-anak di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Selain mengelola Percetakan Boxing Club, dirinya juga secara langsung membina sejumlah anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap olahraga tinju.
Menurut Yeyen, Percetakan Boxing Club pada awalnya berpusat di kawasan Percetakan, tepatnya di sekitar Pasar Mama Papua. Sasana tersebut kemudian sempat vakum karena pelatih utama harus kembali ke Maluku setelah keluarganya pindah tugas ke daerah tersebut.
“Ke depannya kami berharap bisa melahirkan atlet-atlet yang berbakat. Papua dulu terkenal dengan beberapa atlet tinju, tetapi sekarang kelihatannya sudah tidak ada lagi. Kami ingin terus melatih dan berharap ada atlet berbakat yang nantinya bisa kembali mengharumkan nama Papua,” ujar Yeyen.
Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 20 atlet atau anggota yang masih aktif mengikuti latihan. Kevakuman sebelumnya juga disebabkan sebagian anggota sudah bekerja sehingga tidak lagi memiliki banyak waktu untuk mengikuti latihan secara rutin.
Yeyen menegaskan, pihaknya tidak memiliki rencana untuk mendatangkan pelatih dari luar Papua. Menurut dia, sumber daya manusia di Papua sebenarnya mampu melakukan pembinaan sendiri, sementara kehadiran petinju atau pelatih dari luar lebih diperlukan untuk kegiatan seperti latihan tanding.
“Saya rasa kami tidak butuh pelatih dari luar. Kita orang Papua sendiri bisa. Kalau untuk teman-teman sparing mungkin boleh, tetapi untuk melatih kami juga bisa,” katanya.
Selain tinju, Yeyen juga mengembangkan konsep fighting club di kediamannya dengan menyediakan latihan sejumlah cabang olahraga bela diri, seperti jiu-jitsu dan muay thai. Namun, khusus anak-anak yang dibinanya dalam Percetakan Boxing Club, latihan difokuskan pada cabang olahraga tinju.
Sasana tersebut juga memiliki sejarah tersendiri bagi Yeyen. Ia bahkan telah menulis sebuah novel tinju yang mengangkat kisah nyata perjalanan Percetakan Boxing Club. Naskah novel tersebut hingga kini tidak dijual karena Yeyen memiliki rencana untuk mengembangkan ceritanya menjadi sebuah film layar lebar.
Untuk latihan rutin, anggota Percetakan Boxing Club selama ini menggunakan kawasan Pasar Mama Papua sebagai lokasi latihan. Latihan dilaksanakan tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Senin, Rabu dan Jumat, sementara latihan di kediaman Yeyen di Angkasa dilakukan secara insidental sebagai bagian dari latihan bersama.
“Sasana ini sangat terbuka untuk siapa saja. Kami menerima semua adik-adik yang mau berlatih tinju. Daripada berantem di jalanan tidak ada guna, lebih baik naik ke atas ring dan berprestasi, mengharumkan nama daerah maupun bangsa, bahkan bisa mewakili Indonesia ke mana pun nantinya,” tutur Yeyen.
Ia juga menyoroti minimnya dukungan dan agenda pertandingan tinju di Papua. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam pengembangan atlet karena para petinju membutuhkan kompetisi untuk menguji kemampuan sekaligus mengukur hasil latihan yang telah mereka jalani.
“Sejauh ini dukungan pemerintah sudah sangat minim, hampir-hampir tidak ada event seperti dulu lagi. Kami juga kesulitan mencari event untuk anak-anak menunjukkan kemampuan. Kami berharap pemerintah lebih perhatian dan memberikan event-event seperti kejuaraan daerah agar atlet bisa menyalurkan bakatnya,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu pelatih di Percetakan Boxing Club, Frangki, menilai Kota Jayapura sebenarnya memiliki potensi besar untuk melahirkan atlet-atlet tinju. Namun, potensi tersebut belum berkembang maksimal karena pembinaan dan perhatian terhadap sasana-sasana tinju dinilai masih kurang.
“Khusus Kota Jayapura, sebenarnya potensi atlet-atlet tinju asal Papua sangat besar. Tinggal bagaimana peran pemerintah, khususnya bidang yang menangani tinju, bisa lebih progresif dalam memperhatikan para atlet ini,” kata Frangki.
Frangki menyebutkan, berdasarkan data yang ada, terdapat hampir puluhan sasana tinju di Kota Jayapura. Namun, sebagian di antaranya mengalami stagnasi karena minim pembinaan maupun perhatian, sehingga aktivitas latihan berkurang dan beberapa sasana bahkan tidak lagi aktif.
“Dengan adanya Pak Yeyen yang kembali merangkul anak-anak untuk berlatih tinju, saya pikir ini kesempatan yang baik dan menjadi angin segar bagi teman-teman tinju. Ini juga menjadi bentuk motivasi positif bagi adik-adik dalam berlatih. Kegiatan seperti ini perlu diperbanyak dan ditingkatkan agar mereka yang punya bakat dan potensi semakin semangat berlatih,” pungkas Frangki. (RPN-02)















