Redaksipapuanews.com | Jayapura – Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (Otsus) Papua, Yanni, menyoroti persoalan krisis guru Pendidikan Agama Kristen pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di Provinsi Papua. Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam rapat koordinasi yang digelar Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua, Kamis (25/6/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah instansi terkait dan perguruan tinggi guna membahas ketersediaan guru Pendidikan Agama Kristen di kabupaten dan kota se-Provinsi Papua. Menurut Yanni, langkah yang dilakukan MRP merupakan sebuah terobosan penting dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
“Ini adalah sebuah terobosan yang luar biasa sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis guru agama. Dari perjalanan kami di Komite, banyak bupati yang datang menyampaikan berbagai persoalan di daerah masing-masing, dan yang terjadi bukan hanya krisis guru agama, tetapi juga krisis guru secara umum,” kata Yanni.
Ia menjelaskan, kondisi kekurangan tenaga pendidik di sejumlah wilayah, khususnya di Provinsi Papua Pegunungan, sudah berada pada tahap yang memprihatinkan. Jumlah guru yang tersedia dinilai tidak sebanding dengan jumlah peserta didik yang harus dilayani.
“Ketersediaan guru di kabupaten-kabupaten, terutama di Papua Pegunungan, sangat memprihatinkan. Jumlah murid tidak sebanding dengan jumlah guru yang tersedia, dan kondisi ini sangat serius,” ujarnya.
Yanni menilai, persoalan tersebut harus segera mendapatkan perhatian bersama karena pendidikan, khususnya pendidikan agama, menjadi fondasi utama dalam membangun karakter generasi muda Papua. Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan harus dimulai dari penguatan nilai-nilai keimanan.
“Semua pembangunan yang mendasar harus dimulai dari keimanan. Krisis guru agama merupakan persoalan serius yang juga telah saya sampaikan langsung kepada Bapak Gubernur dalam pertemuan yang berlangsung hampir dua jam,” ungkapnya.
Dalam pertemuan tersebut, lanjut Yanni, Gubernur Papua juga mengakui bahwa daerah saat ini menghadapi persoalan kekurangan guru secara umum, termasuk tenaga pengajar pendidikan agama. Karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya secara bersama-sama.
Ia menegaskan bahwa keberadaan guru agama memiliki peranan penting dalam membentuk akhlak dan karakter anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan agama menjadi salah satu benteng agar generasi muda tidak kehilangan arah dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Guru agama memiliki peran yang sangat penting dalam membangun akhlak anak-anak kita. Melalui pendidikan agama, anak-anak sejak sekolah dasar hingga SMP tidak kehilangan arah dan memiliki pegangan hidup yang kuat,” tuturnya.
Selain persoalan pendidikan, Yanni juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi masyarakat, yakni semakin terkikisnya ketahanan budaya lokal. Ia menilai, fenomena tersebut menjadi ancaman yang harus diantisipasi karena dapat memengaruhi identitas dan jati diri generasi muda Papua.
“Bukan hanya di Papua, tetapi juga di berbagai daerah lain, saya melihat bahwa kita tidak hanya mengalami krisis guru, tetapi juga krisis akibat terkikisnya kebudayaan kita. Kita sedang menghadapi runtuhnya ketahanan budaya, dan ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya,” katanya.
Menurut Yanni, agama memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai sosial dan kebangsaan. Karena itu, pendidikan agama tidak boleh diabaikan dan harus terus diperkuat.
Ia juga menepis anggapan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan saat ini mengalami efisiensi yang mengurangi perhatian pemerintah. Menurutnya, kedua sektor tersebut tetap menjadi prioritas utama yang harus diperjuangkan demi kesejahteraan masyarakat.
“Kita tidak boleh mengalami krisis pendidikan agama. Tidak benar apabila ada anggapan bahwa sektor pendidikan dan kesehatan mengalami efisiensi yang mengurangi perhatian negara. Pendidikan dan kesehatan tetap menjadi prioritas yang harus diperjuangkan bersama,” tegasnya.
Sebagai anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, Yanni menyatakan kesiapannya untuk menjadi penghubung antara aspirasi masyarakat Papua dengan pemerintah pusat. Ia berkomitmen meneruskan berbagai masukan yang dihasilkan dalam rapat koordinasi tersebut kepada kementerian dan lembaga terkait guna mencari solusi yang tepat bagi kebutuhan guru agama di Tanah Papua.
“Apa pun hasil diskusi hari ini, saya siap mendengarkan dan meneruskannya kepada pihak-pihak terkait. Saya siap menjadi penyambung aspirasi masyarakat kepada Komite maupun kementerian-kementerian yang berwenang,” pungkasnya. (RPN-02)

















