Redaksipapuanews.com | Jayapura – Keprihatinan terhadap perkembangan olahraga Jiu Jitsu di Papua yang dinilai mulai sepi mendorong Anggota Komisi V DPR Papua, Yeyen, mengambil langkah langsung. Bukan sekadar berbicara, Yeyen membuka ruang latihan di halaman rumahnya di Kelurahan Angkasa, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, untuk membina generasi muda Papua.
Langkah tersebut diarahkan untuk mencari dan membentuk bibit-bibit atlet Jiu Jitsu dari kalangan Orang Asli Papua (OAP). Yeyen menggandeng Dojo Holtekamp dalam proses latihan sekaligus menyiapkan fasilitas dan perlengkapan yang dibutuhkan para peserta.
Latihan perdana dan pembinaan tersebut berlangsung pada Minggu (20/9/2026). Sejumlah anak muda mulai mengikuti latihan dengan mendapatkan pendampingan dari Sensei Elga yang merupakan pelatih dari Dojo Holtekamp.
Yeyen mengatakan, salah satu alasan dirinya membuka kembali kelas latihan Jiu Jitsu karena melihat olahraga tersebut di Papua tidak lagi seramai sebelumnya. Kondisi itu, menurutnya, juga beriringan dengan kebutuhan terhadap atlet putra dan putri asli Papua yang dapat dipersiapkan untuk tampil membawa nama Papua di luar daerah.
“Jiu Jitsu di Papua saat ini sudah agak sepi, sudah tidak seperti dulu. Kita juga kekurangan atlet-atlet putra dan putri asli Papua untuk mewakili kita ke luar daerah. Untuk itu, saya mulai membuka lagi kelas di rumah ini,” ujar Yeyen di sela-sela latihan.
Yeyen menegaskan, pembinaan yang dilakukan di rumahnya tersebut sejak awal memang diarahkan untuk memberikan ruang kepada putra-putri asli Papua. Namun, ia memastikan masyarakat non-OAP yang ingin bergabung tetap terbuka untuk mengikuti latihan.
“Yang saya rekrut di sini semuanya harus putra dan putri asli Papua. Kami masih dalam proses belajar dan bekerja sama dengan Dojo Holtekamp. Kalau Jiu Jitsu, kami mengundang sensei atau guru kami, Sensei Elga, untuk datang dan melatih kami di sini,” katanya.
Menurut Yeyen, pembinaan tidak boleh berhenti hanya pada kegiatan latihan. Ia berharap para peserta yang saat ini mulai berlatih dapat berkembang menjadi atlet yang mampu tampil dalam berbagai kompetisi dan membawa nama Papua, bahkan jika memungkinkan sampai ke tingkat internasional.
“Harapannya kita bisa menciptakan atlet-atlet terbaik dari putra-putri Papua asli untuk mewakili dan mengharumkan nama Papua di pertandingan di luar daerah maupun kalau bisa kita ke mancanegara nanti,” ucapnya.
Yeyen juga menegaskan bahwa pintu latihan tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari Jiu Jitsu. Kendati demikian, target utama dari pembinaan tersebut adalah melahirkan atlet putra-putri asli Papua yang memiliki kemampuan untuk mewakili daerah.
Sementara itu, Sensei Dojo Holtekamp, Elga, menyambut baik langkah pembinaan tersebut. Ia menilai program seperti ini perlu dilakukan dalam jangka panjang dan tidak hanya menyasar calon atlet yang sudah dewasa, tetapi juga dapat diarahkan kepada siswa dari berbagai kelompok usia.
“Harapan saya ke depan mungkin ini bisa berjangka panjang. Selain itu, kita juga mungkin melakukan pembinaan untuk siswa-siswa tingkat umur. Ke depannya kita terus membina untuk menciptakan atlet-atlet yang berprestasi,” kata Elga.
Elga mengatakan, keberadaan ruang latihan baru tersebut juga dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak putra-putri daerah untuk mengenal Jiu Jitsu. Ia berharap pembinaan yang dilakukan secara konsisten nantinya mampu melahirkan atlet asli Papua yang dapat dipercaya untuk membawa nama daerah dalam pertandingan.
“Harapan saya, putra-putra daerah bisa ikut serta latihan supaya ke depannya ini menjadi langkah awal. Putra daerah bisa mewakili Papua,” ujarnya.
Elga menjelaskan, secara organisasi perkembangan Jiu Jitsu di Papua sebenarnya telah memiliki sejumlah wadah. Pengurus di tingkat kabupaten, kota maupun provinsi telah ada, sementara di sejumlah daerah juga telah berdiri dojo sebagai tempat latihan. Di Kota Jayapura sendiri, kegiatan Jiu Jitsu antara lain berpusat di kawasan Satrol.
Meski demikian, Elga mengakui masih terdapat keterbatasan dalam pengembangan olahraga tersebut, salah satunya berkaitan dengan kegiatan pertandingan atau turnamen. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri agar Jiu Jitsu semakin dikenal masyarakat dan para atlet memiliki ruang untuk menguji kemampuan mereka.
Pembinaan yang kini dimulai dari halaman rumah Yeyen diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan latihan biasa. Dengan menggandeng Dojo Holtekamp dan memberikan perhatian khusus kepada putra-putri asli Papua, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali regenerasi atlet Jiu Jitsu di Papua. (RPN-02)















