Redaksipapuanews.com | Jayapura – Usai menjalani lebih dari 50 hari pengabdian, sebanyak 24 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), resmi mengakhiri program KKN di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Selama berada di Kampung Skow Mabo dan Kampung Skow Yambe, para mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga meninggalkan sejumlah inovasi dan kegiatan pemberdayaan yang diharapkan dapat terus dikembangkan masyarakat.
Penarikan mahasiswa KKN UGM dilakukan oleh Wakil Walikota Jayapura, Rustan Saru, dalam apel gabungan di lingkungan Pemerintah Kota Jayapura, Senin (10/8/2026). Sebanyak 12 mahasiswa ditempatkan di Kampung Skow Mabo dan 12 mahasiswa lainnya berada di Kampung Skow Yambe.
Selama masa pengabdian, para mahasiswa melaksanakan lebih dari 120 program kerja yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di kedua kampung. Program tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari penyuluhan dan sosialisasi, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan lingkungan, pembinaan UMKM, hingga pengembangan teknologi sederhana yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Wakil Walikota Jayapura, Rustan Saru, memberikan apresiasi kepada mahasiswa UGM yang telah mengambil bagian dalam proses pemberdayaan masyarakat di wilayah Muara Tami. Menurutnya, kehadiran mahasiswa KKN memberikan manfaat sekaligus menjadi pemicu bagi masyarakat untuk melihat dan mengembangkan potensi yang ada di kampung.
“Apa yang telah dilakukan selama berada di Kampung Skow Mabo dan Skow Yambe diharapkan dapat memberikan manfaat dan terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir,” ujar Rustan Saru.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengembangan UMKM. Para mahasiswa memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk mengolah berbagai potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, di antaranya pembuatan permen, VCO atau minyak kelapa, serta sejumlah produk olahan lainnya.
Selain bidang ekonomi, mahasiswa juga melaksanakan program yang berkaitan dengan lingkungan dan teknologi tepat guna. Mereka membuat alat insinerator yang dapat membantu pengelolaan dan pembakaran sampah serta mengembangkan fasilitas hidroponik sebagai salah satu upaya memperkenalkan metode budidaya tanaman yang dapat diterapkan masyarakat.
Rustan Saru meminta Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung, organisasi perangkat daerah terkait, serta para kepala kampung agar tidak membiarkan program-program tersebut berhenti setelah mahasiswa kembali ke Yogyakarta.
“Saya meminta, program yang telah dilakukan jangan berhenti setelah masa KKN berakhir, tetapi harus terus dikembangkan,” tegas Rustan.
Sementara itu, Dosen Pendamping KKN UGM, Sismanto, mengatakan ke-24 mahasiswa yang diterjunkan ke Muara Tami berasal dari berbagai jurusan. Keberagaman latar belakang keilmuan tersebut menjadi salah satu faktor pendukung dalam menjalankan program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing kampung.
Sismanto berharap, berbagai program yang telah dijalankan tidak berakhir bersamaan dengan selesainya masa KKN. Masyarakat dan pemerintah kampung diharapkan dapat melanjutkan sekaligus mengembangkan hasil kegiatan yang telah ditinggalkan mahasiswa, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Kami berharap apa yang sudah dilakukan adik-adik mahasiswa ini bisa dilanjutkan. Barang-barang yang kami tinggalkan seperti insinerator dan hidroponik juga dapat dimanfaatkan. Kami berharap masyarakat bisa meniru dan mengembangkannya sendiri,” ungkap Sismanto.
Pemerintah Kota Jayapura berharap program KKN UGM di Muara Tami dapat menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah kampung dan masyarakat. (RPN-02)

















