Redaksipapuanews.com | Jayapura – Kepala SMA YPPDK Gabungan Jayapura, Dr. Sandra G. Titihalawa, S.Pd., M.Si., menegaskan pembinaan siswa tidak dapat hanya dilakukan melalui penerapan aturan dan pemberian sanksi. Menurutnya, pembentukan karakter membutuhkan pendampingan yang menyentuh aspek moral dan spiritual, terutama di tengah perubahan perilaku generasi muda yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Sandra usai SMA YPPDK Gabungan Jayapura menjalin kerja sama dengan Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Paulus Dok V melalui teken Memorandum of Understanding (MoU), Jumat (4/9/2026).
Penandatanganan kerja sama berlangsung di Aula Pandora SMA YPPDK Gabungan Jayapura setelah pelaksanaan ibadah bersama. Kesepakatan ini menjadi langkah sekolah untuk memperluas dukungan terhadap proses pendidikan, khususnya dalam pembinaan karakter, kehidupan kerohanian dan pendampingan siswa.
Ttihalawa menjelaskan, salah satu bentuk implementasi kerja sama tersebut adalah pelaksanaan klinik pastoral di lingkungan SMA YPPDK Gabungan Jayapura. Program tersebut diharapkan menjadi ruang pendampingan bagi siswa yang menghadapi persoalan perilaku, termasuk mereka yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah.
Namun kata dia, keberadaan klinik pastoral tidak dimaksudkan sebagai tempat untuk menghakimi atau sekadar memberikan hukuman kepada siswa. Pendekatan yang ingin dikembangkan justru mengutamakan proses pembinaan agar siswa mampu memahami kesalahannya, melakukan perubahan dan kembali membangun perilaku yang positif.
“Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan karakter dan pendampingan murid melalui pelaksanaan klinik pastoral di lingkungan SMA Gabungan Jayapura,” ujar Titihalawa kepada awak media.
Ia mengatakan, sebagai lembaga pendidikan Kristen, SMA YPPDK Gabungan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai kekristenan dalam kehidupan peserta didik. Karena itu, sekolah menilai keterlibatan gereja dan para pelayan gereja penting untuk memperkuat pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
Menurutnya, sekolah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan perkembangan karakter siswa. Sinergi dengan GKI Paulus Dok V diharapkan mampu menghadirkan pola pendampingan yang lebih menyeluruh melalui keterlibatan pendeta maupun tokoh agama dalam proses pembinaan.
“Kita tahu bahwa SMA YPPDK Gabungan ini merupakan sekolah Kristen. Untuk menumbuhkan nilai-nilai kekristenan, tentu kami tidak bisa melaksanakannya tanpa dukungan dari pendeta maupun tokoh-tokoh agama,” katanya.
Titihalawa mengakui tantangan dalam pembentukan karakter siswa semakin kompleks seiring perubahan zaman. Perkembangan teknologi digital dan penggunaan media sosial yang begitu cepat dinilai turut memengaruhi cara siswa berinteraksi, memperoleh informasi dan membentuk pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai, tanpa pendampingan yang memadai, media sosial dapat menjadi salah satu ruang masuk berbagai pengaruh negatif terhadap perkembangan anak. Karena itu, sekolah membutuhkan pendekatan yang lebih aktif dan preventif agar siswa memiliki kemampuan menyaring berbagai informasi serta mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai positif.
Melalui kerja sama tersebut diharapkan GKI Paulus Dok V dapat menjadi mitra strategis sekolah dalam menghadapi persoalan-persoalan yang muncul di kalangan siswa. Klinik pastoral diharapkan tidak hanya digunakan ketika terjadi pelanggaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan penguatan kehidupan spiritual peserta didik.
“Harapan kami, ketika kerja sama ini terjalin dan kemudian dapat diimplementasikan secara maksimal oleh sekolah maupun tokoh-tokoh agama, saya pikir ini akan memberikan dampak yang baik dan positif terhadap peningkatan karakter murid,” pungkas Sandra.
Dengan adanya MoU tersebut, SMA YPPDK Gabungan Jayapura berharap tercipta lingkungan pendidikan yang semakin mendukung pertumbuhan siswa secara utuh. Kolaborasi sekolah dan gereja diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berkarakter baik, memiliki kepedulian terhadap sesama serta memiliki kehidupan kerohanian yang kuat. (RPN-02)

















