Redaksipapuanews.com | Jayapura – Dinas Perikanan kota Jayapura memberikan pelatihan budiliaya Kepiting Soka dan Udang Lobster Air Tawar bagi pembudidaya Cirang Asli Papua (OAP) di Kota Jayapura, yang dilaksanakan di Kampung Nafri, Rabu (12/8/2026).
Dalam laporan pelaksanaan kegiatan yang disampaikan Kepala Dinas Perikan Kota Jayapura, Matheys Sibi, pelatihan ini diikuti 30 peserta dari 6 Kampung, yakni pelatihan Kepiting Soka bagi 7 orang dari kampung Enggros, dan 8 orang dari Kampung Nafri. Sedangkan pelatihan Lobster Air Tawar diberikan kepada 15 orang dari Kampung Skouw Yambe, Skouw Mabo, Skouw Sae, dan Koya Barat..
Sibi menyebut pelatihan tersebut merupakan penjabaran nyata dari visi dan misi pemerintah kota Jayapura, khususnya dalam mewujudkan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Jayapura.
“Tujuannya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknis pembudidaya OAP dalam melakukan usaha budidaya kepiting soka dan udang lobster air tawar, serta mendorong masyarakat untuk mengembangkan usaha perikanan budidaya yang produktif dan bernilai ekonomi,” paparnya.
Selain itu dikatakan, dengan adanya pelatihan ini membuka peluang tumbuhnya wirausaha baru di bidang perikanan budidaya bagi masyarakat CAP. Untuk itu diharapkan, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di lapangan.
“Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas usaha pembudidaya, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga, menciptakan lapangan usaha baru, dan meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya perikanan local,” ujar Sibi.
Sementara itu Asisten III Setda Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari, yang membuka giat tersebut mengatakan, pelatihan ini diharapkan tidak berhenti sebatas kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha produktif dengan skala yang lebih besar.
“Ini harus betul-betul dikawal sehingga nantinya bisa memenuhi kebutuhan dalam skala besar. Hotel kan banyak dan makanan seperti ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga menurut saya sangat penting,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembibitan dan pengelolaan produksi agar kegiatan budidaya tidak hanya bergantung pada satu kali musim panen. Menurutnya, kesinambungan produksi harus menjadi perhatian utama sehingga setelah panen tersedia kembali bibit dan proses budidaya dapat terus berjalan.
“Jangan sampai setelah panen tidak ada lagi. Kita harapkan pembudidayaan dan pengembangan pembibitan bisa berjalan, sehingga panennya berkesinambungan.” katanya.
Sementara itu, keterbatasan peserta pelatihan yang hanya berjumlah 30 orang, masing-masing 15 orang untuk budidaya kepiting soka dan 15 orang untuk lobster air tawar, diharapkan tidak menjadi batasan dalam penyebaran pengetahuan.
Peserta yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan dapat menularkan ilmu kepada masyarakat lainnya sehingga terbentuk kelompok-kelompok pembudidaya yang mampu mengembangkan berbagai komoditas perikanan secara berkelanjutan.
“Masyarakat yang sudah mendapat ilmu ini diharapkan bisa mengembangkan lagi kepada masyarakat lainnya. Nantinya bisa terbentuk kelompok-kelompok perikanan yang menangani lobster, kepiting, maupun produk lainnya,” tegas Sri Antari. (Ing)

















