Oleh : Achmad Nur Saichul Ma’arif
Program Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, Jayapura, Indonesia
Pengaruh Kompetensi, Disiplin, dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang Dimediasi oleh Motivasi Kerja di Kota Jayapura. Dengan bimbingan Yohanis Rante, Westim Ratang, Arius Kambu.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis (1) Kompetensi terhadap motivasi kerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura. (2) Disiplin terhadap motivasi kerja usaha IKM di Kota Jayapura. (3) Motivasi kerja terhadap motivasi kerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura. (4) Kompetensi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja melalui motivasi kerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura. (5) Disiplin secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja melalui motivasi kerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura. (6) Budaya organisasi secara langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja melalui motivasi kerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura. (7) Motivasi kerja terhadap kinerja pelaku usaha IKM di Kota Jayapura.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah pelaku Industri Kecil dan Menengah di Kota Jayapura. Sampel penelitian sebanyak 233 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Analisis data dilakukan menggunakan Software spss dan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan aplikasi SmartPLS 4.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pelaku IKM di Kota Jayapura. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi pelaku usaha belum tentu diikuti oleh peningkatan motivasi kerja. (2) Disiplin berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pelaku IKM di Kota Jayapura. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat disiplin yang dimiliki pelaku usaha, maka semakin tinggi pula motivasi kerja. (3) Budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja pelaku IKM di Kota Jayapura. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kuat nilai-nilai budaya organisasi yang diterapkan dalam usaha, maka semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki pelaku usaha IKM. (4) Kompetensi berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura, namun berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja melalui motivasi kerja sebagai variabel mediasi. (5) Disiplin berpengaruh signifikan secara langsung maupun tidak langsung melalui motivasi kerja sebagai variabel mediasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat disiplin pelaku usaha, maka semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki. (6) Budaya organisasi berpengaruh signifikan secara langsung maupun tidak langsung melalui motivasi kerja sebagai variabel mediasi terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura. (7) Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM di Kota Jayapura. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki pelaku usaha, maka semakin tinggi pula kinerja yang dihasilkan usahanya.
- PENDAHULUAN
Industri Kecil dan Menengah (IKM) merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi daerah karena berperan dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pengembangan produk lokal, dan penguatan aktivitas ekonomi daerah. Di Kota Jayapura, IKM berkembang pada berbagai sektor, antara lain makanan dan minuman, pengolahan hasil perikanan, pengolahan hasil pertanian, kerajinan, fesyen, dan industri rumah tangga.
Permasalahan yang dihadapi bukan hanya berkaitan dengan jumlah unit usaha, tetapi terutama dengan kemampuan IKM menghasilkan kinerja usaha yang berkelanjutan. Disertasi ini menunjukkan bahwa jumlah IKM Kota Jayapura meningkat dari 340 unit usaha pada tahun 2025 menjadi sekitar 555 unit usaha pada tahun 2026. IKM tersebut tersebar di Jayapura Selatan, Jayapura Utara, Abepura, Heram, dan Muara Tami.
Namun, perkembangan jumlah usaha tersebut masih diikuti berbagai kendala berupa keterbatasan kompetensi sumber daya manusia, lemahnya penguasaan teknologi produksi, kurangnya inovasi, keterbatasan pembiayaan, rendahnya kemampuan pemasaran digital, dan belum optimalnya pengelolaan usaha secara profesional.
Kondisi kompetensi pelaku IKM juga memperlihatkan adanya kesenjangan antara pelatihan dan implementasi. Dari 233 responden, hanya 70 responden atau 30,04% yang mengikuti pelatihan kewirausahaan, sementara 93 responden atau 39,91% tercatat menerapkan hasil pelatihan secara konsisten. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan tidak selalu otomatis berubah menjadi perilaku usaha dan peningkatan kinerja.
Fenomena tersebut menjadi penting karena kompetensi secara teoritis dipandang sebagai salah satu sumber daya strategis yang dapat meningkatkan kemampuan individu dalam menjalankan pekerjaan. Akan tetapi, dalam konteks IKM, kompetensi tidak selalu menghasilkan motivasi yang lebih tinggi. Pelaku usaha dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, tetapi belum tentu mempunyai dorongan internal yang kuat untuk mengembangkan usahanya.
Selain kompetensi, disiplin merupakan faktor penting dalam pengelolaan IKM. Disiplin tercermin melalui konsistensi pengelolaan waktu, pencatatan keuangan, pengendalian produksi, pemenuhan target, dan kepatuhan terhadap standar kerja. Dalam lingkungan IKM yang sebagian besar masih bersifat informal dan kekeluargaan, disiplin menjadi mekanisme penting untuk mengubah aktivitas usaha yang bersifat informal menjadi aktivitas yang lebih terencana dan produktif.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah budaya organisasi. Pada sebagian IKM Kota Jayapura, budaya usaha masih bersifat sederhana dan kekeluargaan. Kondisi tersebut memiliki nilai positif dalam membangun hubungan sosial, tetapi pada sisi lain dapat membatasi orientasi terhadap inovasi, efisiensi, kualitas, dan pengembangan usaha jangka panjang.
Motivasi kerja menjadi variabel penting karena merupakan dorongan yang menggerakkan pelaku usaha untuk mencapai tujuan, mempertahankan usaha, mengambil risiko, melakukan inovasi, dan meningkatkan produktivitas. Hasil penelitian dalam disertasi menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja IKM.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini mengembangkan model yang mengintegrasikan kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi dengan motivasi kerja sebagai variabel mediasi untuk menjelaskan kinerja IKM di Kota Jayapura. Model tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya menjelaskan apakah suatu variabel berpengaruh terhadap kinerja, tetapi juga menjelaskan mekanisme bagaimana pengaruh tersebut berlangsung.
Research Gap dan Novelty
Research gap penelitian terletak pada adanya kemungkinan perbedaan antara peningkatan kompetensi dan peningkatan motivasi. Pelatihan dan pengembangan kompetensi belum tentu menghasilkan perubahan perilaku apabila tidak disertai mekanisme motivasional dan lingkungan usaha yang mendukung.
Novelty penelitian terletak pada model empiris yang menempatkan motivasi kerja sebagai mekanisme mediasi dalam hubungan kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja IKM dalam konteks Kota Jayapura. Temuan paling penting adalah bahwa kompetensi berpengaruh langsung terhadap kinerja, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi dan tidak dimediasi oleh motivasi. Sebaliknya, disiplin dan budaya organisasi mampu meningkatkan kinerja baik secara langsung maupun melalui motivasi kerja.
Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkuat pemahaman mengenai faktor internal yang memengaruhi kinerja IKM, tetapi juga menunjukkan bahwa kebijakan peningkatan kapasitas IKM perlu bergeser dari pendekatan pelatihan semata menuju pendekatan integratif yang menggabungkan kompetensi, disiplin, budaya usaha, dan motivasi.
- TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Kompetensi
Kompetensi menggambarkan kemampuan yang dimiliki pelaku usaha dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan yang relevan dengan pelaksanaan kegiatan usaha. Kompetensi diperlukan untuk mengelola produksi, keuangan, pemasaran, inovasi, teknologi, dan hubungan dengan pelanggan.
Secara konseptual, semakin tinggi kompetensi pelaku IKM seharusnya semakin besar kemampuannya menghasilkan kinerja usaha. Namun, kompetensi yang dimiliki tidak selalu menjadi sumber motivasi apabila tidak didukung oleh kesempatan penerapan, penghargaan, lingkungan usaha, dan orientasi pengembangan.
2.2 Disiplin
Disiplin merupakan kesediaan individu untuk menjalankan aktivitas sesuai aturan, prosedur, waktu, dan tanggung jawab yang telah ditetapkan. Dalam konteks IKM, disiplin tercermin dalam keteraturan produksi, pencatatan keuangan, ketepatan waktu, pengendalian kualitas, dan konsistensi memenuhi kebutuhan konsumen.
2.3 Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan sistem nilai dan norma yang membentuk perilaku anggota organisasi. Dalam konteks IKM, budaya usaha tercermin dalam kejujuran, inovasi, kerja sama tim, komitmen terhadap mutu, pelayanan pelanggan, dan orientasi perbaikan berkelanjutan.
2.4 Motivasi Kerja
Motivasi kerja merupakan dorongan yang mengarahkan individu untuk melakukan aktivitas usaha dan mencapai tujuan tertentu. Motivasi dapat mendorong pelaku IKM untuk bekerja lebih keras, mengembangkan usaha, melakukan inovasi, mempertahankan kualitas, dan menghadapi risiko usaha.
2.5 Kinerja IKM
Kinerja IKM menggambarkan hasil yang dicapai pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan bisnis. Dalam penelitian ini kinerja tercermin melalui kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, inisiatif, dan kemampuan teknis.
2.6 Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan kerangka konseptual penelitian, hipotesis yang diuji adalah:
H1: Kompetensi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja pelaku IKM.
H2: Disiplin berpengaruh positif terhadap motivasi kerja pelaku IKM.
H3: Budaya organisasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja pelaku IKM.
H4: Kompetensi berpengaruh terhadap kinerja IKM melalui motivasi kerja.
H5: Disiplin berpengaruh terhadap kinerja IKM melalui motivasi kerja.
H6: Budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja IKM melalui motivasi kerja.
H7: Motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja IKM.
- METODE PENELITIAN
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah pelaku IKM di Kota Jayapura. Berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Jayapura tahun 2026 terdapat sekitar 555 unit IKM yang tersebar pada lima distrik.
Sampel penelitian berjumlah 233 responden dan ditentukan menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan skala Likert lima tingkat.
Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS 4. Pengujian meliputi validitas, reliabilitas, discriminant validity, HTMT, R², f², path coefficient, t-statistic, p-value, dan pengujian indirect effect untuk menguji peran mediasi motivasi kerja.
- HASIL PENELITIAN
4.1 Evaluasi Model Struktural
Hasil analisis menunjukkan nilai R² motivasi kerja sebesar 0,635. Artinya, 63,5% variasi motivasi kerja dapat dijelaskan oleh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi. Sementara itu, nilai R² kinerja IKM sebesar 0,860 menunjukkan bahwa 86% variasi kinerja IKM dapat dijelaskan oleh kompetensi, disiplin, budaya organisasi, dan motivasi kerja.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan penjelasan yang kuat dalam menjelaskan kinerja IKM Kota Jayapura.
4.2 Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja dengan koefisien -0,011, t-statistic 0,239, dan p-value 0,811.
Disiplin berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja dengan koefisien 0,494, t-statistic 10,322, dan p-value 0,000. Budaya organisasi juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja dengan koefisien 0,428, t-statistic 7,985, dan p-value 0,000.
Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja IKM dengan koefisien 0,303. Disiplin berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,213, sedangkan budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan dengan koefisien 0,247. Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dengan koefisien 0,346.
4.3 Pengujian Mediasi
Motivasi kerja tidak memediasi pengaruh kompetensi terhadap kinerja IKM. Indirect effect sebesar -0,004, t-statistic 0,270, p-value 0,788, dan VAF 1,11%.
Sebaliknya, motivasi kerja memediasi pengaruh disiplin terhadap kinerja IKM. Indirect effect sebesar 0,178 dengan t-statistic 5,997 dan p-value 0,000. VAF sebesar 45,52% menunjukkan mediasi parsial.
Motivasi kerja juga memediasi pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja IKM. Indirect effect sebesar 0,154, t-statistic 6,433, p-value 0,000, dan VAF 38,40%, yang menunjukkan mediasi parsial.
- PEMBAHASAN
Analisis Verifikatif
Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk menguji pengaruh kompetensi, disiplin terhadap kinerja IKM dengan motivasi kerja sebagai variabel mediator data diolah menggunakan Structural Equation Modeling dengan metode alternatif Partial Least Square. Evaluasi model pengukuran pada SEM-PLS dilakukan melalui pendekatan Convergent Validity dan Discriminant Validity. Berdasarkan hasil pengolahan menggunakan sofware smartPLS diperoleh diagram jalur full model sebagai berikut.
Diagram Jalur Full Model
- Convergent Validity
Evaluasi validitas konvergen dilakukan dengan memperhatikan nilai loading factor, Composite Reliability (CR), dan Average Variance Extracted (AVE). Hair et al. (2022) menyatakan bahwa indikator yang baik seharusnya memiliki nilai loading factor di atas 0,70. Dimensi dengan nilai loading factor kurang dari 0,40 direkomendasikan untuk dikeluarkan dari model, sedangkan dimensi yang memiliki nilai antara 0,40–0,70 dapat dipertimbangkan untuk dieliminasi apabila langkah tersebut mampu meningkatkan kualitas model pengukuran. Selanjutnya, reliabilitas konstruk dinilai memadai apabila nilai CR lebih besar dari 0,70, sedangkan validitas konvergen dianggap terpenuhi apabila nilai AVE melebihi 0,50 (Hair et al., 2022).
Temuan Penelitian
Pengujian model persamaan struktural (structural equation modeling) tentang pengaruh kompetensi, disiplin, dan budaya organisasi terhadap kinerja industri kecil dan menegah yang dimediasi motivasi kerja di Kota Jayapura terlihat pada gambar berikut:
Berdasarkan gambar 5.2 hasil pengujian menunjukkan bahwa kompetensi berpengaruh tidak signifikan terhadap motivasi kerja (H1 ditolak). Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat pengetahuan, keterampilan, sikap, dan minat yang dimiliki pelaku IKM belum secara langsung mampu meningkatkan motivasi kerja mereka. Kondisi tersebut dapat dijelaskan bahwa motivasi kerja pelaku IKM lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebutuhan ekonomi, tuntutan usaha, dan kondisi lingkungan kerja daripada kemampuan yang dimiliki. Meskipun demikian, kompetensi terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H4.a diterima). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi pelaku usaha, maka semakin baik pula kemampuan mereka dalam mengelola usaha, meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas produk, serta mencapai target usaha yang telah ditetapkan.
Selanjutnya, disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja (H2 diterima). Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku IKM yang memiliki kedisiplinan dalam menjalankan aktivitas usaha cenderung memiliki semangat dan dorongan kerja yang lebih tinggi. Kedisiplinan dalam mengatur waktu, menaati aturan usaha, dan menjaga konsistensi kerja menjadi faktor yang dapat memperkuat motivasi dalam menjalankan usaha. Selain itu, disiplin kerja juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H5.a diterima), yang menunjukkan bahwa perilaku disiplin mampu mendorong peningkatan efektivitas kerja, produktivitas, serta pencapaian hasil usaha yang lebih optimal.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja (H3 diterima). Temuan ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai kerja, norma, serta kebiasaan positif yang berkembang dalam lingkungan usaha mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif dan meningkatkan motivasi pelaku IKM. Selain itu, budaya organisasi terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H6.a diterima). Hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang kuat dapat membentuk perilaku kerja yang produktif, meningkatkan kerja sama, serta mendorong pencapaian tujuan usaha secara lebih efektif.
Pengujian pengaruh tidak langsung, ditemukan bahwa kompetensi melalui motivasi kerja berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja IKM (H4.b ditolak). Hasil ini sejalan dengan temuan bahwa kompetensi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi kerja, sehingga motivasi kerja tidak mampu memediasi hubungan antara kompetensi dan kinerja IKM. Sebaliknya, disiplin kerja melalui motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H5.b diterima), yang menunjukkan bahwa motivasi kerja mampu menjadi variabel mediasi dalam menjelaskan pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja. Demikian pula, budaya organisasi melalui motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H6.b diterima), yang mengindikasikan bahwa motivasi kerja menjadi mekanisme penting yang menjembatani pengaruh budaya organisasi terhadap peningkatan kinerja IKM.
Pada variabel mediasi dan variabel dependen, hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja IKM (H7 diterima). Temuan ini menegaskan bahwa motivasi kerja merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha. Pelaku IKM yang memiliki motivasi tinggi cenderung menunjukkan semangat kerja yang lebih baik, memiliki komitmen yang kuat terhadap usahanya, serta lebih berorientasi pada pencapaian hasil yang optimal sehingga berdampak pada peningkatan kinerja usaha.
5.1 Kompetensi Tidak Berpengaruh Signifikan terhadap Motivasi Kerja
Temuan ini merupakan hasil yang paling menarik dalam penelitian. Koefisien kompetensi terhadap motivasi bernilai negatif dan tidak signifikan. Dengan demikian, peningkatan kompetensi tidak secara otomatis meningkatkan motivasi kerja pelaku IKM.
Kondisi tersebut dapat dijelaskan dari karakteristik IKM Kota Jayapura. Sebagian besar pelaku usaha masih menjalankan usaha dalam skala kecil dengan modal terbatas dan tenaga kerja yang relatif sedikit. Selain itu, sebagian pelaku usaha memperoleh kompetensi terutama melalui pengalaman praktis dan pelatihan, tetapi belum seluruhnya menerapkan hasil pelatihan dalam aktivitas usaha.
Data penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara partisipasi dalam pelatihan dan implementasi hasil pelatihan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kompetensi sebagai kemampuan individual membutuhkan lingkungan yang memungkinkan kemampuan tersebut diterapkan secara nyata.
Dengan demikian, kompetensi lebih berperan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan, sedangkan motivasi membutuhkan dorongan tambahan berupa tujuan usaha, penghargaan, peluang pengembangan, lingkungan usaha yang kondusif, dan keyakinan bahwa peningkatan usaha akan menghasilkan manfaat ekonomi.
5.2 Disiplin Berpengaruh terhadap Motivasi Kerja
Disiplin mempunyai pengaruh yang relatif kuat terhadap motivasi. Koefisien sebesar 0,494 menunjukkan bahwa semakin baik disiplin pelaku usaha, semakin tinggi motivasi kerjanya.
Disiplin menciptakan keteraturan dalam kegiatan usaha. Ketika pelaku usaha memiliki jadwal kerja, target produksi, pencatatan keuangan, dan standar kerja yang jelas, aktivitas usaha menjadi lebih terarah. Keteraturan tersebut dapat menciptakan pengalaman keberhasilan yang pada akhirnya meningkatkan motivasi.
5.3 Budaya Organisasi Berpengaruh terhadap Motivasi Kerja
Budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi. Koefisien sebesar 0,428 menunjukkan bahwa nilai-nilai usaha yang kuat dapat membentuk lingkungan psikologis yang mendorong pelaku IKM untuk bekerja dan mengembangkan usahanya.
Budaya yang menekankan kejujuran, kerja sama, inovasi, mutu, dan pelayanan pelanggan dapat membentuk orientasi usaha yang lebih positif. Dalam konteks IKM Kota Jayapura, penguatan budaya usaha perlu dilakukan tanpa menghilangkan nilai kekeluargaan yang telah menjadi kekuatan sosial pelaku usaha.
5.4 Kompetensi Berpengaruh terhadap Kinerja tetapi Tidak Melalui Motivasi
Kompetensi berpengaruh langsung terhadap kinerja dengan koefisien 0,303. Artinya, pelaku usaha yang memiliki kompetensi lebih baik cenderung mampu menghasilkan kinerja yang lebih tinggi.
Namun, pengaruh tidak langsung melalui motivasi tidak signifikan. Temuan ini menunjukkan adanya perbedaan antara ability to perform dan willingness to perform. Kompetensi memberikan kemampuan melakukan pekerjaan, tetapi belum tentu menciptakan dorongan internal untuk mengembangkan usaha.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kebijakan pascapelatihan. Program peningkatan kompetensi tidak cukup berhenti pada pemberian materi, tetapi harus dilanjutkan dengan pendampingan, praktik, evaluasi penerapan, fasilitasi pasar, dan penguatan motivasi usaha.
5.5 Disiplin dan Motivasi sebagai Mekanisme Peningkatan Kinerja
Disiplin mempunyai pengaruh langsung sekaligus tidak langsung melalui motivasi. VAF sebesar 45,52% menunjukkan bahwa hampir setengah pengaruh disiplin terhadap kinerja bekerja melalui motivasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa disiplin bukan hanya persoalan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga dapat membentuk kebiasaan kerja yang menghasilkan pengalaman keberhasilan dan meningkatkan dorongan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
5.6 Budaya Organisasi, Motivasi, dan Kinerja
Budaya organisasi berpengaruh langsung terhadap kinerja dan juga melalui motivasi. VAF sebesar 38,40% menunjukkan mediasi parsial.
Artinya, budaya usaha dapat meningkatkan kinerja melalui dua jalur. Pertama, budaya secara langsung membentuk perilaku kerja. Kedua, budaya menciptakan kondisi yang meningkatkan motivasi pelaku usaha. Oleh karena itu, program pemberdayaan IKM perlu memasukkan aspek budaya usaha sebagai bagian dari pembinaan, bukan hanya aspek teknis produksi.
5.7 Motivasi Kerja sebagai Prediktor Kinerja
Motivasi kerja mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja dengan koefisien 0,346 dan effect size 0,338. Temuan ini menunjukkan bahwa motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kinerja IKM.
Pelaku usaha yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih berorientasi pada pencapaian, lebih konsisten dalam menjalankan usaha, lebih terbuka terhadap inovasi, dan lebih berupaya meningkatkan kualitas produk serta pelayanan.
- IMPLIKASI PENELITIAN
6.1 Implikasi Teoretis
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian manajemen IKM dengan menunjukkan bahwa hubungan antara faktor internal dan kinerja tidak selalu berlangsung melalui mekanisme yang sama.
Kompetensi terbukti memiliki pengaruh langsung terhadap kinerja, tetapi tidak melalui motivasi. Sebaliknya, disiplin dan budaya organisasi memiliki jalur mediasi melalui motivasi. Dengan demikian, model kinerja IKM perlu mempertimbangkan mekanisme psikologis dan perilaku selain kemampuan teknis.
Model penelitian juga menghasilkan daya jelas yang tinggi terhadap kinerja IKM, dengan R² sebesar 0,860.
6.2 Implikasi Praktis
Bagi Pemerintah Kota Jayapura, hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembinaan IKM sebaiknya tidak hanya berorientasi pada pelatihan kompetensi.
Strategi yang direkomendasikan meliputi:
- Pelatihan berbasis kebutuhan usaha, bukan pelatihan yang hanya berorientasi pada jumlah peserta.
- Pendampingan pascapelatihan agar kompetensi benar-benar diterapkan.
- Penguatan disiplin usaha, terutama pencatatan keuangan, jadwal produksi, pengendalian kualitas, dan pemenuhan pesanan.
- Pengembangan budaya usaha, khususnya inovasi, mutu, kejujuran, kerja sama, dan pelayanan pelanggan.
- Program peningkatan motivasi, melalui target usaha, akses pasar, penghargaan, promosi produk, dan fasilitasi jejaring bisnis.
- Penguatan ekosistem hulu-hilir IKM, mulai dari bahan baku, produksi, pengemasan, legalitas, pemasaran, perdagangan, hingga akses pasar.
- Pendampingan digitalisasi, khususnya pemasaran digital dan penggunaan teknologi untuk pengelolaan usaha.
- KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja IKM Kota Jayapura dipengaruhi oleh kombinasi kompetensi, disiplin, budaya organisasi, dan motivasi kerja. Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja IKM secara langsung, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap motivasi dan tidak mampu meningkatkan kinerja melalui motivasi.
Disiplin dan budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi maupun kinerja. Motivasi kerja terbukti menjadi mediator parsial pada hubungan disiplin terhadap kinerja dan budaya organisasi terhadap kinerja.
Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi tidak otomatis meningkatkan motivasi pelaku IKM. Oleh sebab itu, kebijakan pengembangan IKM tidak cukup hanya melalui pelatihan peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi harus diintegrasikan dengan pembentukan disiplin, budaya usaha yang mendukung, pendampingan, akses pasar, dan penguatan motivasi.
Dengan demikian, peningkatan kinerja IKM Kota Jayapura memerlukan pendekatan ekosistem yang menghubungkan kompetensi → penerapan → disiplin dan budaya usaha → motivasi → kinerja, dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
- KETERBATASAN DAN AGENDA PENELITIAN SELANJUTNYA
Penelitian menggunakan desain kuantitatif dan data cross-sectional sehingga hubungan antarvariabel terutama menjelaskan kondisi pada periode penelitian. Penelitian berikutnya dapat menggunakan pendekatan longitudinal untuk melihat perubahan kompetensi, motivasi, dan kinerja pelaku IKM setelah memperoleh program pembinaan.
Penelitian selanjutnya juga dapat memasukkan variabel lain seperti akses pembiayaan, digitalisasi, inovasi, orientasi kewirausahaan, kepemimpinan, jejaring usaha, dukungan pemerintah, dan akses pasar untuk menjelaskan variasi kinerja IKM yang belum dijelaskan oleh model.

















